Artikel
Detail Artikel

Membedah Katak, Belajar Sistem Peredaran Darah

  • Author: Super Admin
  • WAPIK Reference Number: AA-01387
  • Views: 1716
  • Last Updated: 31/01/2013 16:21:49





Siswa masih merasa kesulitan belajar peredaran darah hanya melalui gambar. Dengan praktik langsung siswa menjadi paham.

 

“Aduh, aku nggak tau gambar apaan nih?” keluh Farrel ketika diminta menjelaskan gambar organ pencernaan dan sistem peredaran darah. Kesulitan dalam memahami gambar organ pencernaan dan peredaran darah ini bukan hanya menjadi masalah Farrel, namun juga menjadi masalah beberapa temannya yang lain. “Ok, kalau gitu besok kita akan belajar membedah katak” ucap Ustad Muhib. “Horeee…!!!” serentak anak-anak bersorak. Untuk menunjang kegiatan membedah katak, siswa kami bagi menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 4 orang.

Keesokan harinya, kami segera mengeluarkan meja di kelas ke selasar kelas 5 sebagai laboratorium dadakan. Alat dan bahan pun sudah kami persiapkan; beberapa ekor katak sawah yang masih hidup, toples kaca (tempat membius), kloroform, kapas, papan bedah, dan beberapa set peralatan bedah. Sebelum kegiatan dimulai, kami mengadakan kontrak belajar selama kegiatan membedah katak untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. 

Siswa menerima penjelasan dari guru

Demonstrasi serta penjelasan cara membedah katak pun dilakukan oleh ustad  sebagai instruktur laboratorium, mulai dari membius katak dengan kloroform, membedah,  sampai menjelaskan beberapa organ-organ yang ada di dalamnya. Siswa pun segera melakukan tugasnya untuk membedah katak serta menggambar organ-organ sistem pencernaan dan sistem peredaran darah. Ustadz-ustadzah kelas 5 segera menyebar untuk membimbing masing-masing kelompok. “Us, gelembung-gelembung yang kembang kempis itu apa?” tanya Hammam, “Ooh, itu paru-parunya…” jawab Ustad Muhib.  Beberapa anak yang mulanya merasa takut akhirnya berani melakukan pembedahan dengan dukungan teman-temannya dan ustad-ustadzah. “Loh, kataknya bergerak-gerak lagi !” teriak Naufal, teman sekelompoknya segera membekap katak dengan kapas yang dibasahi kloroform lagi dan katak pun terbius lagi. “Yap, memang dalam membedah katak diharapkan tidak terlalu lama, sebelum efek biusnya hilang” jelas Ustad Muhib lagi.

Masing-masing kelompok menyiapkan alat dan bahan

Setelah rangkaian kegiatan membedah katak selesai kami membuat lubang kuburan massal untuk katak di samping kelas dan menguburkan semua katak yang telah kami bedah. “Us, apa kita nggak dosa terhadap katak-katak ini?” tanya Lia. “Selama niat kita adalah untuk belajar maka insyaallah kita mendapat pahala bukan dosa” jawab Ustad Muhib. Beberapa siswa melakukan tingkah lucu dengan menaburkan bunga dari taman sambil komat-kamit seakan membaca do’a. “Hehehe… ada-ada saja anak-anak ini” gumam Ustad Muhib.

Siswa antusias membedah katak untuk belajar peredaran darah

Kami semua segera membersihkan alat dan tangan, kemudian kami kembali berkumpul di kelas melakukan diskusi untuk merefleksikan dan menyimpulkan pembelajaran membedah katak. Setelah itu masing-masing siswa mengerjakan beberapa soal kuis. Alhamdulillah hasilnya menggembirakan, 95 persen siswa menjawab benar semua pertanyaan-pertanyaan kuis. Siswa pun pulang dengan pengalaman seru yang akan diceritakan kepada keluarganya. (kontributor: WAPIK-Unesa).









Kirim Komentar

Nama:
Email:
Komentar:
Captcha:


  • List Komentar

  • Ahmad Muhibbullah

  • Asyiknya belajar dari pengalaman langsung...
    Beri TanggapanBatal Beri Tanggapan
    Nama:
    Email:
    Komentar:
    Captcha:
  • Feriawan Guntama

  • ga ngerti :v ccd
    Beri TanggapanBatal Beri Tanggapan
    Nama:
    Email:
    Komentar:
    Captcha:
  • rossi zamzami

  • Sungguh menarik dan menyenangkan mendidik anak eksperimen secara langsung dengan objeknya, yang semula jijik dan takut dengan katak ternyata muncul keberanian dan keingin-tahuan untuk menerapkan konsep. Salut, Selamat dan Sukses selalu guru Indonesia
    Beri TanggapanBatal Beri Tanggapan
    Nama:
    Email:
    Komentar:
    Captcha: