Artikel
Detail Artikel

Modul Pelatihan Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 3 (BTL 3)

  • Author: Super Admin
  • WAPIK Reference Number: AA-01051
  • Views: 1511
  • Last Updated: 02/05/2013 14:02:05





Modul pelatihan “Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 3” atau dikenal dengan BTL 3 dikembangkan DBE3 untuk memfasilitasi pelatihan bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas di SMP/MTs. Modul ini merupakan lanjutan dari modul “Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 2” (BTL2). Modul BTL 2 berisi tentang Telaah Kurikulum, Bagaimana Merancang Lembar Kerja yang Baik? Bagaimana Memanfaatkan Media dalam Pembelajaran? Penilaian, Jurnal Reflektif, Persiapan dan Praktik Mengajar, Bagaimana Membuat Rencana Tindak Lanjut? dan Mendorong Perubahan di Kelas

 

Decentralized Basic Education 3 (DBE3) Project, yang didanai USAID, bertujuan untuknmendukung Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama dalam meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan menengah pertama. Untuk mencapai tujuan ini, DBE3 telah mengembangkan dan melaksanakan program pelatihan guru di enam propinsi yaitu propinsi Sumatera Utara, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Untuk keperluan pelatihan tersebut dikembangkanlah modul pelatihan dengan nama “Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 3”.

Modul pelatihan ini, yang lebih dikenal dengan nama Better Teaching and Learning 3’ (BTL3), merupakan lanjutan dari modul “Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 2” (BTL2). Modul ini terdiri atas enam unit (Unit 1–6). Unit 1—5 digunakan pada setiap tingkatan pelatihan (TOT Nasional, TOT Provinsi, dan Pelatihan Kabupaten/Sekolah), sedangkan Unit 6 selain digunakan dalam TOT Nasional dan TOT Provinsi juga secara khusus digunakan untuk pelatihan kepala sekolah dan pengawas.

Unit 1: Telaah Kurikulum. Unit ini mengajak peserta untuk mengkaji Standar Isi, memetakan  standar kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) serta mengaitkannya dengan suatu konteks/tema/teks/unit untuk membuat perencanaan pembelajaran jangka menengah (silabus) yang kontekstual. Kegiatan ini akan berpengaruh positif pada efektivitas pembelajaran. Pengembangan ide-ide pembelajaran yang beragam untuk mencapai suatu KD adalah bagian penting dari unit ini.

Unit 2: Unit ini terdiri atas tiga sub unit, yaitu sub Unit 2A: Bagaimana Merancang Lembar Kerja yang Baik? Unit ini membelajarkan bagaimana merancang LK yang lebih menantang siswa untuk menganalisis, mengevaluasi, berkreasi, dan memecahkan masalah daripada sekedar mengisi ’titik-titik’ dengan kalimat singkat. Struktur pokok Lembar Kerja pada unit ini terdiri dari informasi/pernyataan konteks permasalahan dan pertanyaan. Pertanyaan yang digunakan adalah pertanyaan tingkat tinggi seperti yang dipelajari pada unit 2A-BTL2.

Sub Unit 2B: Bagaimana Memanfaatkan Media dalam Pembelajaran? Fokus unit ini adalah pada bagaimana media pembelajaran digunakan sebanyak-banyaknya oleh siswa untuk bereksplorasi daripada hanya oleh guru untuk menjelaskan suatu konsep. Sub Unit 2C: Penilaian. Bagian ini memberi pemahaman dan keterampilan bagaimana merancang alat penilaian yang lebih objektif dengan menggunakan rubrik penilaian.

Unit 3: Jurnal Reflektif. Dalam unit ini peserta belajar bagaimana menulis jurnal belajar yang reflektif yaitu menuliskan pelajaran yang dapat dipetik dalam pembelajaran yang telah dialaminya dalam pelatihan daripada hanya sekedar menceritakan apa yang telah dilakukannya (deskriptif). Kemampuan menulis jurnal yang reflektif ini diharapkan dapat digunakan guru dalam menuliskan jurnal mengajarnya. Jurnal mengajar yang reflektif bermanfaat memberikan masukan bagi guru untuk memperbaiki proses pengajaran dan pembelajaran di kelas.

Unit 4: Persiapan dan Praktik Mengajar. Unit ini memfasilitasi peserta dalam membuat persiapan mengajar untuk mengimplementasikan aspek-aspek yang telah dilatihkan, seperti implementasi hasil telaah kurikulum, rancangan lembar kerja, identifikasi media pembelajaran yang terjangkau dan relevan, rubrik penilaian, dan jurnal refleksi. Termasuk di dalamnya penerapan hal yang telah dilatihkan pada modul BTL 1 dan BTL 2, seperti pertanyaan yang mendorong siswa berpikir tingkat tinggi, pemecahan masalah, pengelolaan kelas, dan penciptaan lingkungan belajar yang mendorong siswa belajar aktif yang diimplementasikan dengan pendekatan kontekstual. Unit ini mengajak guru untuk sekaligus mengintegrasikan semua hal yang telah dilatihkan kemudian mempraktikannya dalam konteks pembelajaran yang nyata.

Unit 5: Bagaimana Membuat Rencana Tindak Lanjut. Keberhasilan suatu pelatihan bukanlah hanya diukur dari seberapa banyak pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta dari pelatihan tersebut melainkan seberapa besar dampak pelatihan pada perubahan di tingkat kelas/sekolah. Rencana tindak lajut (RTL) merupakan salah satu alat untuk ’menjamin’ bahwa pengetahuan dan keterampilan tersebut akan diterapkan di kelas/sekolah. Dalam RTL peserta akan menuliskan kegiatan konkret apa saja yang akan dilakukan sebagai wujud penerapan gagasan yang diperoleh dalam pelatihan, baik oleh guru, kepala sekolah, pengawas, fasilitator daerah, forum guru sekolah mitra, dan MGMP. RTL pada BTL3 ini lebih dipacu pelaksanaannya dengan adanya ’tagihan’ enam minggu setelah pelatihan, yaitu terwujudnya Program Jangka Menengah (hasil penerapan unit 1), Lembar Kerja (unit 2A), Media Pembelajaran (unit 2B), Rubrik Penilaian (unit 2C), Jurnal Reflektif (unit 3), dan Hasil Karya Siswa.

Unit 6: Mendorong Perubahan di Kelas. Guru yang telah mendapat pelatihan memerlukan dukungan dari orang-orang di sekelilingnya agar mereka lebih berani menerapkan hasil pelatihannya. Kepala Sekolah dan Pengawas merupakan dua unsur lain kunci pembaharuan di sekolah, selain guru. Unit ini khusus diperuntukkan bagi Pengawas dan Kepala Sekolah dan menawarkan bagaimana kiat mendorong, memicu, bahkan memacu perubahan positif di sekolah.

Penyusunan pembelajaran di tiap sesi, modul ini menggunakan kerangka sederhana yang disebut ICARE. Pendekatan ini meliputi lima unsur kunci dari pengalaman pembelajaran yaitu Introduction (Kenalkan), Connection (Hubungkan), Application (Terapkan), Reflection (Refleksi), dan Extension (Kegiatan Lanjutan). Penggunaan kerangka ICARE dimaksudkan untuk memastikan bahwa para peserta memiliki kesempatan untuk mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari. Pendekatan ini adalah pendekatan yang hanya digunakan selama pelatihan. Pendekatan pengajaran yang dilakukan oleh guru di dalam kelas tidak harus menggunakan pendekatan ini.

Unduh BTL 3 pdf









Kirim Komentar

Nama:
Email:
Komentar:
Captcha: