Artikel
Detail Artikel

Berwawancara dengan Narasumber

  • Author: Super Admin
  • WAPIK Reference Number: AA-00541
  • Views: 3420
  • Last Updated: 02/05/2013 11:27:13





Siswa ke luar kelas mencari narasumber yang telah mereka tentukan lalu mewawancarainya. Pembelajaran ini membuat mereka aktif, kreatif, inovatif, dan senang.

(Untuk informasi lengkap cara mengaplikasikan pengajaran profesional dan pembelajaran bermakna di SMP/MTs pada kelas awal, silahkan Klik BTL_1, BTL_2BTL_3, BTL_4_MGMP)


Siswa mewawancarai seorang narasumber di lingkungan sekolah.

Pembelajaran aktif  yang dikenalkan oleh DBE3 sangat bermanfaat bagi saya terutama dalam hal menyusun rencana pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran sampai pada refleksi. Mulanya ada ketakutan pada diri saya karena dituntut untuk selalu membuat persiapan pembelajaran. Akan tetapi, akhirnya hal tersebut menjadi kebiasaan. Alhamdulillah, teman-teman di lingkungan kerja saya, di MTs YTI Nguling Kabupaten Pasuruan, juga ikut merasakan  manfaatnya. 

Pembelajaran aktif atau yang biasa kita kenal dengan  metode CTL (Contextual Teaching learning) sangat bermanfaat bagi siswa terutama dalam berpikir kritis dan kreatif. Pembelajaran melibatkan siswa secara aktif, kreatif, inovatif, dan tentunya menyenangkan sehingga tuntutan KD tercapai.

Siswa kelas VIII B, MTs YTI Nguling Kabupaten Pasuruan awalnya bertanya-tanya seputar kompetensi yang akan dibelajarkan. Mereka menunggu ice breaking yang akan diberikan pada awal pembelajaran. Ice breaking “tupai pemburu” cukup membuat mereka “panas” untuk menerima pembelajaran. Kemudian, saya pun memulai pembelajaran dengan  Kompetensi Dasar “Berwawancara dengan Narasumber dari Berbagai Kalangan”. 

Agar pembelajaran lebih terkontrol, saya tetap menggunakan skenario pembelajaran dengan sistem “ICARE”. Introduction cukup membuat mereka terpancing untuk menentukan tema wawancara dan narasumber yang ada di sekitar MTs YTI Nguling. Pada kegiatan Connection, siswa saya suruh untuk menempelkan SK/KD di papan tulis agar mereka mengetahui tujuan dari pembelajaran yang disampaikan. Setelah membagi siswa menjadi 8 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 siswa, saya memberikan handout dan menginstruksikan mereka agar segera mendiskusikan tema wawancara dan menentukan narasumber yang akan diwawancarai. 

Pada tahap Application, saya memberi waktu 30 menit kepada siswa untuk  ke luar kelas mencari narasumber yang telah mereka tentukan dan mewawancarainya. Kurang lebih 10 menit berjalan, saya menghampiri mereka untuk menanyakan apakah ada kesulitan dalam melakukan wawancara. 

Permasalahan-permasalahan yang muncul dalam kegiatan berwawancara saya selesaikan melalui tanya jawab dengan siswa. Penguatan pembelajaran ini dilakukan  melalui  tahap Refleksi. Mereka menulis pada selembar kertas kecil di antaranya tentang penguasaan tema dan keberanian ketika berwawancara. 

Pada tahap Extention, saya memperkuat penguasaan kompetensi berwawancara tersebut agar  siswa membiasakan diri untuk melakukannya dalam kegiatan sehari-hari.





Lokasi/alamat pelaksanaan praktik yang baik
:
MTs YTI Nguling Pasuruan
Provinsi
:
Jawa Timur
Tingkat pendidikan
:
SMP/MTs
Lingkup pendidikan
:
kelas
Masalah/Latar belakang – Mengapa praktik yang baik ini dianggap penting? Praktik ini dilaksanakan untuk mengatasi masalah apa?
:

Selama ini kegiatan pembelajaran sering tidak sesuai konteks. Akibatnya siswa sulit memahami pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan pembejaran kontekstual agar siswa lebih mudah menyerap materi pelajaran.

Tujuan praktik yang baik
:

Siswa dapat berwawancara dengan narasumber

Penjelasan: strategi, proses/langkah kegiatan/sumber atau materi yang dibutuhkan
:

Skenario pembelajaran dengan sistem “ICARE”

Introduction

  • membuat siswa terpancing menentukan tema wawancara dan narasumber 

 Connection

  • menempelkan SK/KD · membagi siswa menjadi 8 kelompok @5 siswa · memberikan handout dan menginstruksikan siswa mendiskusikan tema wawancara dan menentukan narasumber yang akan diwawancarai. 

 Application

  •  Siswa untuk  ke luar kelas mencari narasumber
  •  Guru bertanya jawab dengan siswa.
  •  Siswa menulis tentang penguasaan tema dan keberanian ketika berwawancara. 

 Reflection

  • Siswa menulis pada selembar kertas di antaranya tentang penguasaan tema dan keberanian ketika berwawancara. 

 Extention

  • Guru memperkuat penguasaan kompetensi berwawancara 
Hasil, dampak atau perubahan dari praktik yang baik
:

Siswa berpengalaman melakukan wawancara dalam kegiatan sehari-hari

Informasi pelaku dan/kontributor – nama dan alamat
:

M. Bayu Firmansyah, Guru Bahasa Indonesia MTs YTI Nguling Pasuruan Jawa Timur





Artikel Terkait :

Pembelajaran Bahasa Indonesia: Apresiasi Dongeng dengan Kartu
Pembelajaran Bahasa Inggris: Koneksi Total Membuat Belajar Optimal
Belajar Bahasa Inggris melalui Drama? Siapa Takut…!
Pembelajaran IPA: Membuat Mesin Hidrolik Pengangkat Mobil
Pembelajaran Bahasa Inggris: Belajar Teks Naratif dengan Menggunakan Cerita Malin Kundang


Kirim Komentar

Nama:
Email:
Komentar:
Captcha:


  • List Komentar