Artikel
Detail Artikel

Pembelajaran Bahasa Inggris: Text Procedure Melalui Pembuatan Layang-layang

  • Author: Super Admin
  • WAPIK Reference Number: AA-00493
  • Views: 6222
  • Last Updated: 08/05/2013 10:43:47





Text procedure modifikasi menjadi aktivitas yang menyenangkan. Siswa belajar text procedure dengan membuat layang-layang.


Siswa mengerjakan LK I; Ibu Susi menunjukkan kerangka layangan; siswa membuat layang-layang; siswa menunjukkan hasil kerja kelompoknya; seluruh siswa memamerkan layang-layang hasil pembelajaran.

 

Ibu Sulilawaty S.Pd, guru Bahasa Inggris SMPN 5 Tarutung yang juga DF DBE3 mengampu tentang text procedure. Text procedure yang lazim diajarkan dengan cara ceramah, ia modifikasi menjadi aktivitas yang menyenangkan. Ia mengajar text procedure dengan membuat layang-layang. Ruang kelas yang ia ampuh mirip ruang keterampilan. Ada kertas berwarna, benang nilon, batang bambu, lem kanji, gunting, pisau. Semua itu adalah bahan untuk membuat layang-layang. ”Siswa diminta membawanya dari rumah,” terang Ibu Susi.

 

Setelah memotivasi siswanya, Ibu Susi menempelkan kertas besar dan menuliskan sejumlah kata-kata. Ada kata frame, share blade, bamboo stick dan lainnya. Kata-kata yang ada maknanya berhubungan dengan pembuatan layang-layang. ”Itu adalah kata-kata yang menjadi tujuan pembelajaran,” kata Ibu Susi.

Ibu Susi mengajak siswa mengucapkan kata-kata itu satu-persatu. Ia memastikan siswa mengucapkan dengan benar. Selanjutnya, ibu Susi memberikan lembar kerja (LK) yang pertama. LK itu terdiri atas kata-kata berbahasa Inggris dan Indonesia. Siswa diminta menjodohkan kata-kata itu. Misalnya cross harus dijodokan dengan kata salib. Penjodohan didasarkan pada arti dari kata. ”Penjodohan dimaksudkan agar anak familiar dengan kata-kata itu dan tahu artinya,” terang Ibu Susi lebih lanjut.

Proses penjodohan berlangsung menarik. Mereka ingin secepat mungkin menyelesaikan LK 1. Proses penjodohan dilakukan secara berpasangan. Ibu Susi mengecek kebenaran kata-kata yang dijodohkan. Ia meminta hasil kerja siswa diperiksa oleh siswa yang lain. Riak riuh meledak. Ternyata ada siswa yang keliru menjodohkan kata-kata itu. Kesilapan itu akhirnya menghasilkan tawa riang. Selesai dengan LK 1, Ibu Susi melanjutkan pembelajaran dengan LK 2. 

Kali ini Ibu Susi memberikan kata-kata acak yang membentuk satu kalimat. Misalnya: let-me-you-how to – make – show – a kite. Siswa diminta untuk menyusun kata acak itu menjadi kalimat yang utuh.  Ada delapan baris kata acak yang harus dijadikan menjadi delapan kalimat. ”Delapan kalimat itu adalah tahapan membuat layang-layang,” imbuh Ibu Susi. 

Menurut Ibu Susi, LK 1 membantu siswa mengenali kata-kata yang akrab digunakan dalam pembuatan layang-layang. Proses pengenalan ini membantu siswa mengetahui arti kata dan kegunaannya. Sedangkan LK 2 membantu siswa mengetahui tahapan pembuatan layang-layang. ”Jika mereka sudah tahu tahapan pembuatannya, maka mereka akan bisa membuatnya,” terang Ibu Susi.

Proses pengerjaan LK 2 dilakukan secara berkelompok. Siswa diminta menuliskan ulang kalimat yang benar dalam kertas besar. Setelah itu hasil kerja mereka ditempelkan di dinding dan dikoreksi bersama-sama. Ibu Susi memandu penyusunan kalimat itu.

Riuh kembali membahana. Ternyata siswa masih keliru menyusun kalimat. Hanya ada dua kelompok yang berhasil menyusun delapan kalimat itu dengan baik. Selesai dengan urutan kalimat, ibu Susi memberi LK3, siswa diminta mengurutkan tahapan membuat layang-layang. Tahapan ini dikerjakan secara berkelompok. Siswa lebih mudah mengerjakannya, karena mereka sudah mengetahui arti dari setiap kalimat.

Setelah yakin dengan tahapannya, siswa segera bekerja membuat layang-layang. Setelah itu, salah satu utusan kelompok diminta mempresentasikan kerja kelompok. Utusan itu membawa serta layang-layang yang dibuat. Ia menjelaskan tahap demi tahap pembuatannya. Tepuk tangan pecah seketika. Senyum dan tawa muncul seantero kelas. Siswa menunjukkan dengan bangga layang-layangnya.

 





Lokasi/alamat pelaksanaan praktik yang baik
:
SMPN 5 Tarutung
Provinsi
:
Sumatera Utara
Tingkat pendidikan
:
SMP/MTs
Lingkup pendidikan
:
kelas
Masalah/Latar belakang – Mengapa praktik yang baik ini dianggap penting? Praktik ini dilaksanakan untuk mengatasi masalah apa?
:

Text procedure dalam pembelajaran bahasa Inggris lazim diajarkan dengan cara ceramah

Tujuan praktik yang baik
:

Siswa dapat mengungkapkan makna dalam bentuk teks tulis fungsional pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari

Penjelasan: strategi, proses/langkah kegiatan/sumber atau materi yang dibutuhkan
:

Guru mengajar text procedure dengan menggunakan media layang-layang. Ruang kelas yang ia ampuh mirip ruang keterampilan. Ada kertas berwarna, benang nilon, batang bambu, lem kanji, gunting, pisau. Semua itu adalah bahan untuk membuat layang-layang. 

Siswa mengerjakan 3 LK. LK-1: terdiri atas kata-kata berbahasa Inggris dan Indonesia. Siswa secara berpasangan diminta menjodohkan kata-kata yang berkaitan dengan layang-layang terutama untuk mengenali kata-kata yang akrab digunakan dalam pembuatan layang-layang. LK-2: berisi kata-kata acak yang membentuk satu kalimat. Siswa diminta untuk menyusun kata acak itu menjadi kalimat yang utuh. LK3: Siswa mengurutkan tahapan membuat layang-layang. Tahapan ini dikerjakan secara berkelompok. Siswa lebih mudah mengerjakannya, karena mereka sudah mengetahui arti dari setiap kalimat.

Setelah yakin dengan tahapannya, siswa segera bekerja membuat layang-layang. Salah satu utusan kelompok diminta mempresentasikan kerja kelompok dengan membawa serta layang-layang yang dibuat. 

Hasil, dampak atau perubahan dari praktik yang baik
:
  • Siswa dapat mengungkapkan makna dalam bentuk teks tulis fungsional pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari
  • Pembelajaran bahasa Inggris menjadi menyenangkan dan tujuan pembelajaran dapat tercapai maksimal. 
Informasi pelaku dan/kontributor – nama dan alamat
:

Penulis: Erix Hutasoit (Communication Officer DBE3 – Sumut)
Pelaku: Sulilawaty S.Pd, guru Bahasa Inggris SMPN 5 Tarutung - Sumut





Artikel Terkait :

Pembelajaran Bahasa Indonesia: Menulis Buku Harian
Pembelajaran IPA: Melalui Percobaan Fotosintesis, Siswa Amati Nutrisi dan Transformasi Energi
Temuan Tak Terduga dalam Proses Pembelajaran Matematika di SMPN 19 Purworejo
Wayang Bicara
Ada Dadu di Kelas Bahasa Pembelajaran dengan “Sirkuit Pantun”


Kirim Komentar

Nama:
Email:
Komentar:
Captcha:


  • List Komentar