Artikel
Detail Artikel

Quality Assurance System (QAS) Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat terhadap Sekolah Swasta

  • Author: Super Admin
  • WAPIK Reference Number: AA-01028
  • Views: 1731
  • Last Updated: 18/06/2012 03:18:55





Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah swasta masih rendah. Sekolah tidak memberi jaminan mutu atas lulusannya. Kebijakan sekolah gratis membuat sekolah swasta tidak punya alasan untuk memungut biaya dari masyarakat. QAS adalah jawabannya, karena sekolah yang bermutu pasti diburu.


Kegiatan lokakarya penyusunan dokumen QAS.

Dampak dari kebijakan sekolah gratis sangat dirasakan oleh sekolah swasta. Sekolah tidak bisa lagi memungut dana masyarakat sesuai dengan kebutuhan pengembangan sekolah. Pada tahun 2005 Ketua Pengurus Yayasan Ukhuwah Banjarmasin yang sedang resah terhadap dampak kebijakan ini berkunjung ke kantor saya dan bertanya, “Pak, bagaimana strategi meningkatkan mutu sekolah sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah swasta karena sekarang ada kebijakan sekolah gratis dan pemerintah memperbesar daya tampung di sekolah-sekolah negeri?” Saya lalu balik bertanya, ”Sekolah itu bermutu dulu baru mahal atau mahal dulu baru bermutu?” Akhirnya kami sepakat bahwa bila sekolah itu bermutu maka masyarakat akan berebut dan mau membayar mahal. Masalahnya adalah bagaimana meningkatkan mutu sekolah sehingga masyarakat mau membiayai sekolah tersebut? 

Masalah yang dihadapi sekolah swasta ini memunculkan ide bagi kami di Kualita Pendidikan Indonesia (KPI) Surabaya untuk mengembangkan Strategi Pengembangan Sekolah melalui Quality Assurance System (QAS). Strategi ini telah diterapkan di SD Al Furqon Jember, SD Al Hikmah Surabaya, SD Al Falah Surabaya, SDIT Al Uswah Surabaya, SD Al Falah Tropodo Sidoarjo, SDIT Nuru Fikri Sidoarjo, SDIT Insan Mandiri Jakarta, SDIT Ukhuwah Banjarmasin, SD Bunga Bangsa Samarinda, SDIT Asy Syamil Bontang, dan Al Ihsan Boarding School (IBS) Pekanbaru.

Berikut pengalaman SDIT Ukhuwah Banjarmasin dalam menerapkan QAS. Sekolah yang berdiri tahun 2003 yang hanya memiliki 24 siswa pada saat berdiri, pada tahun 2006 mulai menerapkan QAS, setelah 6 tahun menerapkan QAS, siswanya menjadi 835 siswa. Proses yang dilakukan sekolah dalam penerapan QAS meliputi : 

  1. Observasi sekolah: Sekolah mengukur sendiri tingkat ketercapaian standar mutu mengunakan instrumen evaluasi diri sekolah.  Sekolah menggandeng KPI mengukur tingkat ketercapaian mutu lulusan dan proses-proses yang telah dilakukan sekolah. Dari kegiatan ini diketahui posisi sekolah terhadap standar yang telah ditetapkan untuk memenuhi persyaratan QAS.
  2. Pembangunan sistem manajemen mutu sekolah: Pada tahap awal sekolah mengumpulkan guru, orang tua siswa, tokoh masyarakat dan dinas pendidikan untuk membuat komitmen bersama pemberian jaminan mutu lulusan. Kemudian untuk proses membangun sistem manajemen mutu, Yayasan Ukhuwah menggandeng KPI mengadakan lokakarya penyusunan quality assurance, lokakarya sistem manajemen mutu dan lokakarya sistem pengendalian mutu (quality control). Hasil dari lokakarya adalah dokumen sistem manajemen mutu. Sekolah menyosialisasikan sistem tersebut dan mengimplementasikannya. Dalam pengendalian mutu dilakukan daily quality report, weekly quality report, KKG internal setiap minggu, progres bulanan, progres tiga bulanan, serta laporan  dan evaluasi semesteran. KPI memberikan konsultasi, pembimbingan bulanan dan melakukan audit tiap 6 bulan.
  3. Peningkatan kompetensi kepala sekolah dan guru: Melalui kegiatan uji kompetensi, pelatihan, pembimbingan/pendampingan (coaching) dan supervisi. Tujuannya agar kepala sekolah dan guru menjadi SDM yang kompeten. 
  4. Pemberdayaan orang tua: Tujuan kegiatan ini meningkatkan sinergi sekolah dengan orang tua. Orangtua memberikan masukan kepada sekolah tentang jaminan mutu yang diinginkan. Sekolah memberikan pelatihan kepada orangtua tentang proses mendidik yang harus dilakukan orangtua di rumah yang mendukung program penjaminan mutu. 

Hasil dari penerapan QAS meliputi : (1). Siswa mencapai 6 jaminan mutu utama :  a) gemar beribadah, b) berperilaku sosial yang baik, c) disiplin, d) hidup bersih dan sehat, e) gemar membaca, f) mencapai ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata terendah 8,00. (2). Sekolah memiliki sistem manajemen mutu. (3) Kepala sekolah memiliki 5 kompetensi (kepribadian, sosial, manajerial, supervisi, dan kewirausahaan). (4) Guru mencapai level sebagai guru kompeten.

Dampaknya, kepercayaan masyarakat meningkat yang ditandai dengan : (1) Jumlah siswa meningkat, contoh :  Jumlah siswa SDIT Ukhuwah tahun 2006 berjumlah 355 siswa, tahun 2011 meningkat menjadi 835 siswa. (2) Kemauan membiayai pendidikan anak meningkat, contoh :  Jumlah sumbangan pembangunan orang tua siswa SDIT Ukhuwah tahun 2006 sebesar Rp 4.000.000/ siswa, tahun 2011 sebesar Rp 10.1200.000/ siswa. 





Lokasi/alamat pelaksanaan praktik yang baik
:
SD Al Furqon Jember, SD Al Hikmah Surabaya, SD Al Falah Surabaya, SDIT Al Uswah Surabaya, SD Al Falah Tropodo Sidoarjo, SDIT Nuru Fikri Sidoarjo, SDIT Insan Mandiri Jakarta, SDIT Ukhuwah Banjarmasin, SD Bunga Bangsa Samarinda, SDIT Asy Syamil Bontang, Al Ihsan Boarding School (IBS) Pekanbaru
Tingkat pendidikan
:
SD/MI
Lingkup pendidikan
:
sekolah
Masalah/Latar belakang – Mengapa praktik yang baik ini dianggap penting? Praktik ini dilaksanakan untuk mengatasi masalah apa?
:
Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah swasta masih rendah. Sekolah tidak memberi jaminan mutu atas lulusannya. Kebijakan sekolah gratis membuat sekolah swasta tidak punya alasan untuk memungut biaya dari masyarakat. Diperlukan sistem untuk meningkatkan mutu sekolah yang dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Tujuan praktik yang baik
:
Memberi jaminan mutu (quality assurance) lulusan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Penjelasan: strategi, proses/langkah kegiatan/sumber atau materi yang dibutuhkan
:
Strategi : 

  1. Penerapan Quality Assurance System (QAS). 
  2. Menentukan diferensiasi keunggulan. 
  3. Bench marking.
  4. Membangun jaringan (networking).
  5. Perbaikan secara berkelanjutan.

Proses : 
  1. Observasi sekolah : Menentukan posisi sekolah terhadap standar yang telah ditetapkan untuk memenuhi prasyarat QAS.
  2. Pembangunan sistem manajemen sekolah. 
  3. Peningkatan kompetensi kepala sekolah dan guru melalui kegiatan pelatihan, pembimbingan (coach) dan supervisi 
  4. Pemberdayaan orangtua siswa.    
Data-data/dokumen :
 A.  Dokumen sistem manajemen mutu.
  1. Visi dan misi sekolah.
  2. Jaminan mutu.
  3. Manual mutu.
  4. Prosedur (SOP). Progress report.
Hasil, dampak atau perubahan dari praktik yang baik
:
Hasil :
  1. Siswa mencapai 6 jaminan mutu utama :  1) gemar beribadah, 2) berperilaku sosial yang baik, 3) disiplin, 4) hidup bersih dan sehat, 5) gemar membaca, 6) mencapai ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata terendah 8,00.
  2. Sekolah memiliki sistem manajemen mutu.
  3. Kepala sekolah memiliki 5 kompetensi (kepribadian, sosial, manajerial, supervisi, dan kewirausahaan)
  4. Guru mencapai level sebagai guru kompeten (catatan : level guru ada 5 : 1. Pemula belum terampil, 2. Pemula terampil, 3. Kompeten (mampu), 4. Mahir, 5. Ahli).    
Dampak :
Kepercayaan masyarakat meningkat ditandai dengan :
  1. Jumlah siswa meningkat, contoh :  Jumlah siswa SDIT Ukhuwah tahun 2006 berjumlah 355 siswa, tahun 2011 berjumlah 835 siswa.
  2. Kemauan membiayai pendidikan anak meningkat, contoh: Jumlah sumbangan pembangunan orangtua siswa SDIT Ukhuwah tahun 2006 sebesar Rp 4.000.000 per siswa, tahun 2011 sebesar Rp 10.120.000 per siswa. 
Informasi pelaku dan/kontributor – nama dan alamat
:
Penulis :
Shobikhul Qisom, M.Pd
081-331747488




Kirim Komentar

Nama:
Email:
Komentar:
Captcha: