Artikel
Detail Artikel

Sekolah yang Menginspirasi

  • Author: Super Admin
  • WAPIK Reference Number: AA-00334
  • Views: 1106
  • Last Updated: 21/05/2013 11:25:11





Walaupun beradadi klaster pedesaan, SMPN 1 Tellulimpoe terdepan dalam melakukan perubahan. Sekolah yang bermitra dengan DBE3 sejak tahun 2008 ini mampu membudayakan dan melestarikan pembelajaran aktif. Atmosfir akademik tercipta terutama dalam memotivasi para guru dan siswa di setiap kelas untuk menunjukkan karya terbaiknya. Guru dan siswa dapat memanfaatkan semua ruang kelas yang sudah berbasis laboratorium mata pelajaran. Apa yang membuatnya bisa berubah?

Di SMPN I Tellullimpoe, seluruh kelas berbasis laboratorium, pembelajaran kontekstual membudaya di semua mapel, pembelajaran terbiasa memanfaatkan media yang terjangkau, dan kreasi hasil karya siswa yang dikembangkan di beberapa mapel sudah memanfaatkan TIK.

Kepala SekolahSebagai Change Maker

Change is theonly evidence of life, Muslimin, sang kepala sekolah, meyakini betul kesadaran itu penting ditanamkandalam benak setiap guru dan staf di sekolahnya. Langkah-langkah perubahan yang dilakukan, pertama, dirinya terus-menerus meyakinkan guru bahwa pembelajaranitu berarti menumbuh-kembangkan segenap potensi atau kecerdasan siswa. Setiapsiswa memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Untuk mengembangkannya dibutuhkancara dan proses yang tepat.

Kedua, Ia memintaguru supaya fokus pada peningkatan kriteria ketuntasan minimal pembelajaransetiap mapel. Ini penting untuk mengukur produktifitas pengajaran guru.Namun, ia selalu menyosialisasikan ke guru agar tidak memvonis siswa bodoh karena hasil buruk tes formalnya.

Menurutnyakecerdasan tidak dibatasi tes formal. Ia optimis kalau potensi atau kecerdasanitu selalu dinamis. Oleh karena itu, ia yakin kalau hasil UN bukanlah alatsatu-satunya untuk mengukur sebuah kesuksesan pembelajaran. Tapi, dirinya memandang pembekalan kecakapan hidup sangat penting, dan itu dimulai dengan mengintegrasikannya dalam pembelajaran.

Ketiga,  dirinya terus berkomitmen memenuhi alat,sumber belajar dan media pembelajaran yang dibutuhkan guru dan siswa. Ketersediaan itu penting sekali untuk mendukung pembelajaran kontekstual.

Guru MataPelajaran sebagai Manager Kelas

Semua guruberpacu meningkatkan capaian kriteria ketuntasan minimal (KKM) denganmelaksanakan pembelajaran aktif dan mengembangkan kecakapan hidup siswa. Gurudan kasek sepakat memilih pendekatan pembelajaran kontekstual.

Pembelajarandikelola dengan cara berbasis laboratorium. 30 ruang belajar ditata menjadikelas sumber belajar. Hasil karya siswa dari setiap pembelajaran diseleksi dandipajang secara artistik. Karya siswa juga diportofoliokan dalam map plastiklalu ditata mengitari ruang segiempat kelas. Tujuannya, agar terus menerusdapat digunakan sebagai referensi dari materi yang berkaitan.

Setiap kelas berfungsi sebagai ruang pembelajaran mapel tertentu. Oleh karena itusiswa  belajar secara berpindah (movingclass).  21 rombongan belajar (7rombel masing-masing kelas 7, 8, dan 9) mobile setiap usaipergantian jam pelajaran (jam ke-3 dan ke-5). Ke-Ruang belajar tersebutdiserahkan pengelolaannya ke setiap guru mapel. IPA 4 kelas; IPS 4 kelas; Matematika 4 kelas; Bahasa Indonesia 4 kelas; Bahasa Inggris 4 kelas; Agama 2kelas; PKN 2 kelas; TIK 2 kelas; Seni Budaya 2 kelas; Penjaskes 1 kelas; dan Muatan Lokal 1 kelas. Setiap guru mapel menjadi manager kelas. Ia bertanggungjawab memelihara keasrian, karakter, dan kekayaan kelasnya sebagai laboratorium pembelajaran.

Membentuk TimPengembang Sekolah

Tim ini terdiri dari kasek sebagai supervisor dan semua koordinator MGMP sekolah. Backup legalitasnya adalah SK Kasek. Dibentuk awal 2010 setelah semua gurunya selesai mengikuti pelatihan modul BTL2 DBE3. Tanggung jawabnya meliputi: (1) Merawat pelaksanaan pembelajaran aktif; (2) Menganalisis ketercapaian tingkat KKM yang ditargetkan guru setiap mapel; (3) Menganalisis alat dan sumber belajar dan media pembelajaran yang dibutuhkan guru dan siswa; (4) Menginisiasi programpeningkatan kapasitas guru;  dan (5) Merumuskan Rencana Kerja Sekolah.





Lokasi/alamat pelaksanaan praktik yang baik
:
SMPN 1 Tellulimpoe Sidrap Jl. Bau Massepe No. 77 Amparita, Sidrap
Provinsi
:
Sulawesi Selatan
Kota/Kabupaten
:
Sidenreng Rappang/Rapang
Tingkat pendidikan
:
SMP/MTs
Lingkup pendidikan
:
Sekolah
Masalah/Latar belakang – Mengapa praktik yang baik ini dianggap penting? Praktik ini dilaksanakan untuk mengatasi masalah apa?
:
  • Perlunya mengelola sekolah dengan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik sekolah
  • Adanya paradigma yang keliru bahwa hasil UN sebagai satu2nya patokan standar mutu sekolah
  • Peran kepala sekolah yang dominan dalam manajemen sekolah membuat rasa memiliki (sense of belonging) dan partisipasi warga sekolah dalam membangun mutu sekolah menjadi pasif.
Tujuan praktik yang baik
:
  • Mengembangkan sekolah yang dapat meningkatkan mutu pendidikan dengan melibatkan partisipasi warga sekolah sesuai perannya.
  • Menciptakan kelas yang mendorong keaktifan siswa dalam belajar dengan fasilitasi oleh guru mapel. 
  • Menciptakan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan ruang kelas dalam pembelajaran
Penjelasan: strategi, proses/langkah kegiatan/sumber atau materi yang dibutuhkan
:
  • Kepala sekolah secara terus menerus meyakinkan guru bahwa pembelajaran menumbuh-kembangkan segenap potensi atau kecerdasan siswa dan tidak memvonis siswa bodoh karena hasil buruk tes formal.
  • Memenuhi alat, sumber belajar dan media pembelajaran yang dibutuhkan guru dan siswa.
  • Guru Mata Pelajaran sebagai Manager Kelas bertanggungjawab memelihara keasrian, karakter, dan kekayaan kelasnya sebagai laboratorium pembelajaran.
  • Pembelajaran dikelola dengan cara berbasis laboratorium, 30 ruang belajar ditata menjadi kelas yang digunakan sebagai sumber belajar.
  • Karya siswa diportofoliokan dalam map plastik lalu ditata mengitari ruang segiempat kelas, sehingga bisa dimanfaatkan siswa untuk referensi materi yang berkaitan.
  • Membentuk Tim Pengembang Sekolah yang terdiri dari kasek dan semua koordinator MGMP sekolah yang bertugas: (1) Merawat pelaksanaan pembelajaran aktif; (2) Menganalisis ketercapaian tingkat KKM yang ditargetkan guru; (3) Menganalisis alat dan sumber belajar dan media pembelajaran yang dibutuhkan, (4) Menginisiasi program peningkatan kapasitas guru;  dan (5) Merumuskan Rencana Kerja Sekolah.
 
Hasil, dampak atau perubahan dari praktik yang baik
:
  • Sekolah mampu membudayakan dan melestarikan pembelajaran aktif.
  • Tercipta atmosfir akademik yang memotivasi para guru dan siswa di setiap kelas untuk menunjukkan karya terbaiknya.
  • Seluruh kelas dapat dimanfaatkan guru dan siswa dalam melakukan praktik pembelajaran yang berbasis mapel.
 
Informasi pelaku dan/kontributor – nama dan alamat
:

Penulis: Hamsah (Comunication Officer DBE3 – Sulsel)

Pelaku: Drs, Muslimin – Kepala SMPN 1 Tellulimpoe Sidrap

 




Artikel Terkait :

SMPN 1 Sidomulyo
Ada Dadu di Kelas Bahasa Pembelajaran dengan “Sirkuit Pantun”
Pembelajaran IPA: Belajar Bioteknologi Sederhana Melalui Eksperimen Membuat Tapai Ketan
Pembelajaran IPA: Memahami Konsep Persilangan dengan Bermain Terawang Warna
Pembelajaran IPA: Belajar Hukum Newton Sambil Bermain Balon


Kirim Komentar

Nama:
Email:
Komentar:
Captcha:


  • List Komentar