Artikel
Detail Artikel

Wayang, Metode Alat Peraga dalam Mendongeng

  • Author: Super Admin
  • WAPIK Reference Number: AA-01298
  • Views: 2607
  • Last Updated: 25/11/2012 14:30:32





Begitu sulitkah bercerita atau mendongeng dengan alat peraga? Rasa senang dan mau belajar itulah yang membuat pembelajaran ini tidak begitu sulit.

Mendongeng mempunayi arti  (1) menceritakan dongeng: Nenek pandai tentang raja-raja zaman dahulu; (2) mengatakan yg tidak benar; berdusta: aku bukan berdusta, melainkan menceritakan kejadian yang sebenarnya (http://kamusbahasaindonesia.org/) Dalam mendongeng, seorang anak yang pendiam, sulit untuk berbicara di depan umum (kelas). Pada materi bahasa Indonesia, terutama pada kompetensi dasar “6.2 Bercerita dengan alat peraga”, anak diharapkan bisa bercerita di depan kelas. Dalam materi ini, anak harus menguasai intonasi, suara, lafal, gesture, dan mimik.

Begitu sulitkah bercerita atau mendongeng dengan alat peraga? Rasa senang dan mau belajar itulah yang membuat pembelajaran ini tidak begitu sulit.

Situasi awal biasanya tegang, bosan, malas, dan tidak menyenangkan. Namun, dengan metode pemodelan wayang dan model pembelajaran interaktif (MPI) “demonstratiton” bisa membantu dalam pembelajaran mendongeng ini. Berikut langkah-langkah yang saya tempuh dalam mengajar mendongeng dengan alat peraga di SMPK Mater Dei Probolinggo.

 
Kegiatan Pembelajaran Mendongeng dengan Alat Peraga

Seminggu sebelumnya, siswa sudah memilih dongeng,  membacanya di rumah, dan membuat outline alur dongeng yang akan diceritakan.  Saat pembelajaran, guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan kurang lebih 10 menit melalui IT – LCD. Siswa sendiri sudah menyiapkan naskah dongeng dan alat peraga yang dibawa berupa wayang, boneka, dan lain-lain. 

Pada bagian inti pembelajaran, guru menampilkan pemodelan dengan cara melihat You Tube, Video, atau model guru, malah bisa juga anak yang pandai mendongeng dengan alat peraga. Tayangan atau pemodelan tersebut dipilih dengan menggunakan alat peraga wayang.

Setelah melihat pemodelan mendongeng dengan alat peraga, guru menunjuk salah seorang siswa untuk mendemonstrasikan sekilas skenario yang telah disiapkan, misalnya, dongeng “Kancil dan Harimau”. Siswa lain memperhatikan demonstrasi, mencatat hal-hal penting dalam mendongeng, dan menganalisis mendongeng yang menarik dan baik.

Langkah berikutnya, tiap siswa atau kelompok siswa mengemukakan hasil analisisnya atau mendemonstrasikan pendapatnya. Pada penutupan pembelajaran, guru dan siswa membuat simpulan dan mengadakan refleksi.

Dengan pembelajaran ini saya mengharapkan agar siswa tidak mengalami kesulitan, tetapi membuat siswa menjadi senang, kreatif, berfikir logis, tampil berani di dpan kelas, percaya diri, dan bisa membantu dalam pembelajaran lain atau mata pelajaran lain.

Mendongeng  dengan alat peraga ternyata  menyenangkan. Siswa lebih aktif, kreatif, dan bisa memodifikasi dan membuat situasi lebih hidup dalam pembelajaran seperti ini, melalui metode ini diharapkan hasilpembelajaran diakhir semester dapat diperoleh nilai diatas KKM=75.





Lokasi/alamat pelaksanaan praktik yang baik
:
SMP KATOLIK MATER DEI PROBOLINGGO
Tingkat pendidikan
:
SMP/MTs
Lingkup pendidikan
:
sekolah
Masalah/Latar belakang – Mengapa praktik yang baik ini dianggap penting? Praktik ini dilaksanakan untuk mengatasi masalah apa?
:

Kesulitan siswa dalam mendongeng/bercerita dengan alat peraga (wayang)
Praktik ini dilaksanakan untuk mengatasi agar anak bisa mendongeng dengan senang.


Tujuan praktik yang baik
:

  • Mendongeng yang baik dengan menggunakan alat peraga (wayang)
  • Meningkatkan ketrampilan anak dalam mendongeng dengan alat peraga
  • Meningkatkan rasa percaya diri anak dalam mendongeng di depan kelas

Penjelasan: strategi, proses/langkah kegiatan/sumber atau materi yang dibutuhkan
:

Berikut beberapa strategi yang dilakukan sekolah:

  1. Memilih dongeng yang akan diceritakan
  2. Menentukan outline alur (plot) dongeng yang akan diceritakan
  3. Siswa melihat model mendongeng dari You Tube / video, atau dari pemodelan guru
  4. Membuat wayang yang sesuai dengan tokoh-tokoh yang akan diceritakan
  5. Siswa menghafal, mendongeng dengan alat peraga (wayang) yang sudah dibuat
  6. Siswa dan guru memberi komentar, dan mengadakan penilaian

Hasil, dampak atau perubahan dari praktik yang baik
:

  • Siswa senang membaca dongeng
  • Siswa bisa mendongeng dengan alat peraga (dongeng)
  • Siswa bisa tampil berani dan percaya diri di depan kelas
  • Siswa aktif dalam pembelajaran yang lain

Informasi pelaku dan/kontributor – nama dan alamat
:

Penulis: Drs. A. Nugroho Widiarto, Guru SMPK Mater Dei Probolinggo.
HP. 08124968573
email : aantonius_nugroho[at]yahoo.com





Kirim Komentar

Nama:
Email:
Komentar:
Captcha:


  • List Komentar

  • Nuning Yulianti,S.Pd

  • Metode yang bpk gunakan bagus pembelajaran tanpa media emang bikin bosen siswa ,bagaikan sayur gak adarasa tp dgn wayang jg ok kok sambil nguru-uri kabudayan bangsa. ayo tulis lagi! OK
    Beri TanggapanBatal Beri Tanggapan
    Nama:
    Email:
    Komentar:
    Captcha: